Mencari Kawan

Lima tahun aku berlari tanpa henti
Melewati mimpi masa kecil dan harapan
Sambil berteriak di jalanan
Aku mencoba mempelajari bahasa zaman ini
Bahasa yang latah dan berubah-ubah
Tetapi aku gagal, karena sirkus pemikiran yang dangkal
Membuatku tak bisa mengkategorikan data
Dan mengulasnya dalam perdebatan

Tertawa tanpa kelucuan
Humor yang dibuat-buat
Tangisan tanpa sebab
Dan pergunjingan yang murah
Membuatku ingin muntah

Seketika aku berlari menuju keramaian
Bertanya pada setiap orang tentang masa depan
Tetapi semua menertawakan pertanyaanku
Dan menganggapnya sesuatu yang tak penting
Lalu kuceritakan semua kepada ibu-bapak
Teman-teman dan para tetangga
Mereka terbahak dan menganggapku stress
Lalu aku merasa tersingkir dalam kehidupan
Menjadi lelucon dalam perbincangan
Karena pertanyaan dan pilihan yang berbeda
Mereka menghinakan cita-cita
Berfestival merobohkan mimpi dan dedikasi

Aku mencoba mencari kawan di hutan belantara
Menyapa babi, kuda, gajah, burung, macan, ular
Tetapi bahasaku tak bisa mereka cerna
Kukunjungi pondok pesantren
Lalu musholah dan tempat ceramah
Kutemukan perbincangan yang miring
Dan pesimis terhadap kehidupan yang ganas
Tetapi aku tak putus asa mencari
Ganti aku masuk ke pelosok desa
Berharap bertemu bahasa yang aku bisa cerna
Jauh-jauh aku berjalan melewati jalan yang becek
Menikmati bau kencing sapi dan ketiak yang kusam
Lagi-lagi, aku ditertawakan dan dianggap gila
Setelah itu, aku berlari sekuat tenaga menuju kota
Berjalan dengan gagah dengan mimpi-mimpi purba
Tetapi kehidupan yang angkuh membuatku lagi-lagi tersingkir

Aku bosan dengan daya fikir macam ini
Membuatku menjerit dan ingin mati
Tetapi persenggamaanku dengan waktu belum aku rampungkan
Adu pancoku dengan kebloonan belum juga selesai
Aku cuma bisa berteriak sekencangnya
Meronta-ronta, membabibuta di kamar mandi
Dan membaca secara sembunyi di kamar tidur
Lalu, menyembunyikan buku di balik plafon
Hehe, hidupku serasa kehilangan makna
Bagai dibanting-banting dan ditonjoki di ring gulat
Tetapi setelah semua berlanjut dan mengalir
Serasa aku tak kaget lagi dengan kehidupan ini
Ku tulis saja sajak secara sembunyi
Dan saat malam kutempelkan di pasar
Berharap besok pagi ada yang membaca teriakan konyolku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s