MENUMBUHKAN GAIRAH BELAJAR MENULIS

Di dalam proses belajar mengajar seharusnya terjadi interaksi dalam sebuah lingkungan yang melibatkan unsur melihat, mengamati dan merasakan sebab hakikat belajar sesungguhnya merupakan proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antar individu dengan lingkungannya.

Perubahan disini meliputi aspek pengetahuan, keterampilan maupun  sikap, misalnya dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu dan dari ragu-ragu menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi sopan dan sebagainya. Kriteria keberhasilan dalam belajar diantaranya ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu pembelajar.

Pembelajaran identik sekali dengan proses belajar-mengajar. Proses dalam pengertiannya disini merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat di dalam proses belajar-mengajar, yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan  dalam ikatan untuk mencapai tujuan. Yang dimaksud komponen atau unsur belajar-mengajar antara lain tujuan instruksional yang hendak dicapai dalam pembelajaran, metode mengajar, alat peraga pengajaran dan evaluasi sebagai alat ukur tercapai tidaknya tujuan pembelajaran.

Satu hal yang sangat berpengaruh dan tidak bisa diabaikan dalam proses belajar mengajar yaitu adanya interaksi antarsubjek belajar dalam lingkungan belajar.

Selama ini pembelajaran selalu berlangsung di ruang kelas yang terkesan monoton dan sering menjenuhkan. Siswa duduk, mendengarkan guru menerangkan materi pembelajaran dan selanjutnya siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Proses belajar mengajar di sekolah, sering memperlihatkan indikasi yang kurang bersemangat, ogah-ogahan dan kurang bergairah. Hal ini terlihat jelas dari tingkah laku siswa  yang berteriak-teriak, menguap dengan suara yang dikeraskan, menyanyi, memukul-mukul bangku, keluar masuk kelas tanpa izin pada waktu pembelajaran dan lain-lain. Munculnya gejala-gejala ini lebih disebabkan oleh adanya perasaan bosan dan  jenuh yang muncul pada diri siswa sebab belajar di kelas sudah dilakukan siswa sejak duduk di bangku sekolah bahkan dari Taman Kanak-Kanak. Faktor lain disebabkan pula oleh penampilan guru yang terkesan monoton, konvensional dan kurang fariatif dalam menyampaikan materi-materi pelajaran.

Pada pembelajaran bidang studi bahasa Indonesia tidak pula berbeda jauh. Pembelajaran bahasa Indonesia masih sering menunjukkan pembelajaran secara teoritis. Padahal hakikat belajar bahasa Indonesia adalah belajar keterampilan menyimak, membaca, menulis dan berbicara. Keempat aspek tersebut merupakan unsur yang semuanya harus dapat dilaksanakan siswa selama pembelajaran.

Pembelajaran bahasa Indonesia pada aspek menulis selama ini terkesan kurang maksimal. Padahal keterampikan menulis  sangat penting diberikan kepada siswa untuk melatih menggunakan bahasa secara aktif. Disamping itu di dalamnya tercakup banyak unsur pembelajaran kebahasaan termasuk kosa kata dan keterampilan penggunaan bahasa itu sendiri dalam bentuk bahasa tulis. Akan tetapi dalam hal ini guru bahasa Indonesia dihadapkan pada dua masalah yang sangat dilematis. Di satu sisi guru bahasa harus dapat menyelesaikan target kurikulum yang harus dicapai dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Sementara di sisi lain porsi waktu yang disediakan untuk pembelajaran menulis relatif terbatas, padahal untuk menulis seharusnya dibutuhkan waktu yang cukup panjang, karena diperlukan konsentrasi, pemahaman menyusun kalimat dan paragraf-paragraf sehingga tersusun sebuah karya tulis yang layak untuk dibaca. Waktu yang dibutuhkan untuk berlatih guna mencapai keterampilan tersebut relatif lama. Dari dua persoalan tersebut kiranya dibutuhkan kreatifitas guru untuk menyusun rencana sedemikian rupa sehingga materi pelajaran menulis dapat diberikan semaksimal mungkin dengan tidak mengesampingkan materi yang lain.

Guru bahasa Indonesia pada umumnya kurang maksimal memberikan pembelajaran menulis. Faktor penyebabnya antara lain karena sistem ujian yang biasanya menjabarkan soal-soal yang sebagian besar besifat teoritis disamping jumlah siswa di kelas yang relatif terlalu besar yaitu berkisar antara empat puluh hingga empat puluh lima orang.

Materi ujian yang bersifat teoritis dapat menimbulkan motivasi guru bahasa mengajarkan materi hanya untuk dapat menjawab soal-soal ujian, sementara aspek keterampilan diabaikan. Sedangkan dengan kelas yang besar konsekuensinya biasanya guru enggan memberikan pelajaran menulis, karena guru harus memeriksa tulisan siswanya yang berjumlah mencapai empat puluh sampai empat puluh lima lembar, kadang hal itu masih harus berhadapan dengan tulisan-tulisan siswa yang notabene sulit dibaca. Belum lagi ia harus mengajar lebih dari satu kelas atau mengajar di sekolah lain, berarti yang harus diperiksa empat puluh kali sekian lembar tulisan. Oleh karena itu, tidak jarang guru memberi tugas menulis kepada siswa hanya sebulan sekali atau bahkan hanya sekali dalam satu semester.

Disamping faktor sistem ujian dan jumlah siswa yang relatif besar di kelas, guru bahasa Indonesia juga dihadapkan pada persoalan perhatian dan respon siswa ketika pembelajaran menulis yang sering membuat guru jadi kurang bersemangat. Terlepas dari faktor-faktor lain yang menyebabkan motivasi siswa untuk berlatih menulis berkurang, sebaiknya guru bahasa Indonesia segera mengambil tindakan untuk mengubah paradikma pembelajaran yang lebih inovatif sehingga perhatian siswa terhadap pembelajaran menulis lebih maksimal.

Salah satu metode yang mungkin dapat dijadikan alternatif pilihan bagi guru bahasa Indonesia untuk menumbuhkan gairah dan motivasi siswa untuk mengikuti aktifitas pembelajaran menulis di kelas ialah metode pembelajaran jigsaw.

Berdasarkan pengalaman penulis ketika  menggunakan metode pembelajaran jigsaw pada pembelajaran bahasa Indonesia di SMA pada kompetensi dasar menulis proposal, proses pembelajaran menunjukkan nuansa yang berbeda dari biasanya. Pembelajaran menjadi lebih bergairah dan bermakna.

Pada awal pembelajaran, siswa berkelompok masing-masing 6 orang. Selanjutnya masing-masing kelompok mendapat satu amplop berisi enam guntingan proposal yaitu (1) latar belakang proposal,(2) tujuan dan sasaran proposal,(3) isi proposal, (4) kepanitiaan (5) anggaran dan (6) penutup proposal.  Satu anggota kelompok mendapat satu guntingan bagian proposal.

Tahap selanjutnya, masing-masing anggota kelompok yang mendapat guntingan bagian proposal yang sama berkumpul membentuk kelompok baru. Kelompok baru ini, (disebut kelompok ahli) selanjutnya berdiskusi dan merumuskan cara menyusun bagian proposal yang didapatkan.

Setelah diskusi dan kegiatan merumuskan cara menyusun bagian proposal sesuai yang didapatkan berakhir, kegiatan selanjutnya masing-masing anggota kelompok ahli kembali ke kelompok masing-masing dan untuk selanjutnya menyusun sebuah proposal sesuai keinginan kelompok sehingga siap untuk dipresentasikan.

Pembelajaran   dengan metode jigsaw  ternyata sangat berpengaruh terhadap perhatian, minat dan sikap siswa. Pada pembelajaran sebelumnya, antusias siswa tidak seperti pada saat pembelajaran dengan metode jigsaw. Pada saat berdiskusi di kelompok ahli, secara tidak langsung siswa dituntut aktif berdiskusi dan  harus mampu merumuskan cara menyusun bagian proposal yang didapatkan. Apabila siswa tidak aktif dalam kelompok ahli, maka siswa akan mengalami kesulitan ketika kembali ke kelompok asal.

Agar tidak terjadi hambatan pembelajaran yang disebabkan ketidak aktifan anggota kelompok dalam kegiatan diskusi di kelompok ahli, maka ketentuan dan kewajiban anggota kelompok harus terlebih dahulu disosialisasikan di awal pembelajaran.

Sebuah pengalaman indah tidak akan bisa menjadi sesuatu yang berarti bagi orang lain apabila hanya sekedar diketahui tanpa pernah ditiru dan dilakukan.Untuk itu ada secercah harapan agar metode jigsaw dapat dijadikan sebagai alternatif strategi pembelajaran bagi guru demi kemajuan anak-anak negeri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s