CARA MENGAJAR GURU MEMPENGARUHI PRESTASI SISWA?

Pertanyaan tersebut mungkin pernah terlintas di hati kita. Benarkah prestasi belajar dipengaruhi oleh cara mengajar guru? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita simak ilustrasi berikut ini.

Bella sangat suka dengan pelajaran bahasa Inggris. Demi meningkatkan prestasi, Bella berusaha mati-matian agar bisa masuk di sekolah idaman. Bella tak segan-segan merogoh kantongnya untuk membeli setumpuk literatur. Uang saku bulanan dari orang tuanya, dikorbankan untuk membeli kamus, ensiklopedi serta beberapa media yang relefan bagi kelancaran belajar bahasa Inggrisnya. Setelah diterima di sekolah idaman ternyata Bella harus berhadapan dengan guru bahasa Inggris yang cara mengajarnya tidak seperti harapan. Tidak ramah, suka menghukum dan hanya bisa memberi tugas tanpa mau memikirkan keinginan para siswanya.

Dari ilustrasi di atas, sudah dapat ditebak dan dipastikan jawabannya, bahwa Bella akan malas mengikuti pelajaran, protes bahkan frustrasi.

Pendekatan, metode, strategi dan model mengajar memang sangat berfariasi. Banyak guru yang masih memilih metode ceramah ketika mengajar. Itu bukan metode yang salah sebab ternyata masih banyak siswa yang lebih cepat menangkap pelajaran melalui cara mendengar. Namun guru juga harus menyadari bahwa ada kelompok siswa yang lebih cepat menyerap materi pelajaran lewat diskusi dan debat. Ada juga kelompok siswa yang lebih suka belajar melalui membaca, melihat gambar, bahkan ada yang menyukai belajar dengan iringan musik.

Beraneka metode dan strategi inilah yang kadang kurang mendapat porsi yang seimbang sehingga sering mengakibatkan kejenuhan dan pada akhirnya memunculkan bentuk “protes” siswa yang terkadang menimbulkan hubungan yang kurang harmonis antara guru dengan siswa.Tidak jarang kelompok siswa terlibat ‘ngrasani’ guru pada saat pembelajaran sehingga menimbulkan konflik antara guru dengan siswa yang ujung-ujungnya mengakibatkan perolehan nilai yang jauh dari harapan.

Salah satu faktor keberhasilan proses pembelajaran adalah adanya korelasi yang sinergis antara guru, metode pembelajaran dan siswa. Disinilah sesungguhnya pentingnya jalinan kerjasama yang berupa keharmonisan hubungan antara siswa dengan guru yang sangat berhubungan erat dengan masalah kejiwaan.

Antara guru dengan siswa sebaiknya tidak perlu saling menyalahkan ketika terjadi permasalahan pembelajaran. Pada saat siswa menunjukkan indikasi malas belajar dan kurang merespon pembelajaran, guru tidak boleh serta merta memojokkan, memarahi dan membenci bahkan seharusnya segera berusaha menemukan akar permasalahan yang menyebabkan siswa kurang merespon pembelajaran. Sebaliknya ketika guru memiliki gaya mengajar dan menentukan pilihan menggunakan metode tertentu yang tidak sesuai dengan keinginan siswa dalam proses pembelajaran, siswa tidak boleh menunjukkan sikap yang apatis, masabodoh, frustrasi, tidak mau mengikuti pembelajaran atau bahkan berusaha mengacaukan pembelajaran yang sudah dapat dipastikan akan semakin memperparah keadaan, sebab guru juga manusia, punya rasa punya jiwa.

Lalu bagaimana seharusnya tindakan siswa bila mengalami persoalan pembelajaran? Jawabannya yang paling tepat ialah “KOMUNIKASI”.

Coba kita renungkan kembali persoalan Bella pada ilustrasi di atas. Di satu sisi Bella ingin banget meniti prestasi di sekolah yang sudah lama ia idam-idamkan. Namun di sisi lain Bella harus pula berhadapan dengan problem pembelajaran. Mau tidak mau bagaimanapun pahitnya, Bella harus belajar bahasa Inggris dengan guru yang sama sekali tidak mendapat simpati di hatinya. Haruskah Bella memaksa guru tersebut untuk mengubah gaya mengajarnya? Ataukah ia harus memprovokasi teman-temanya untuk unjuk rasa agar guru bahasa Inggrisnya segera pindah dari sekolahnya?

Ada dua kemungkinan dampak yang diakibatkan oleh problem pembelajaran yang dialami Bella. Yang pertama dampak negatif, yaitu jika Bella benar-benar menuruti kata hatinya untuk tidak mau berkompromi lagi dengan gaya mengajar guru bahasa Inggrisnya. Bagaimanapun bentuk pembelajaran yang disampaikan guru bahasa Inggrisnya, sama sekali tidak akan mengundang seleranya untuk aktif di dalamnya. Belajar bahasa Inggris bagi Bella kini merupakan sebuah siksaan batin sebab harus berhadapan dengan guru yang benar-benar menyebalkan hatinya. Kekesalan Bella dituangkan dalam bentuk provokasi kepada teman-temannya agar memboikot pembelajaran oleh guru bahasa Inggrisnya. Akibatnya Bella harus menerima kenyataan pahit, nilai bahasa Inggrisnya turun drastis dan hatinya pasti “tidak nyaman” setiap kali bertemu dengan guru bahasa Inggrisnya.

Solusi yang diambil Bella untuk menyelesaikan problem pembelajarannya tidak akan menjadi “malapetaka” apabila ditempuh melalui jalan kompromi. Pada Timing yang tepat, sesungguhnya Bella bisa menyampaikan unek-unek dalam hatinya kepada sang guru. Bella bisa menyampaikan kritik dan keinginannya terhadap fariasi metode mengajar sang guru bahasa Inggris. Bahkan bila perlu Bella  dapat menyampaikan bahwa ia lebih cocok belajar bahasa Inggris dengan metode tertentu.

Kadang-kadang komunikasi antara guru dengan siswa mengalami kebuntuan. Sebagian siswa terkadang masih memiliki perasaan takut terhadap akibat kritik yang disampaikan jangan-jangan akan berakibat buruk terhadap nilai akademiknya. Di sinilah sesungguhnya peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang sangat strategis untuk bertindak sebagai jembatan dalam rangka menyelesaikan problem antara siswa dan guru. Artinya jika siswa tidak mampu berkomunikasi secara langsung dengan guru tertentu untuk menyelesaikan problem pembelajaran,  guru BKlah yang  bertindak selaku penengah. Dalam hal ini sangat dibutuhkan guru BK yang benar-benar memposisikan diri selaku penengah, pelindung dan moderat, bukan sebaliknya sebagai pihak yang mudah terpancing dengan opini siswa yang kadang merupakan argumentasi dari satu sisi sudut pandang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s